Sleman, 30 April 2026 – Rumah Sakit Condong Catur (RSCC) kembali berkolaborasi dengan Radio MQ FM 92.3 Yogyakarta dalam program siaran edukasi kesehatan bertajuk "TB pada Anak: Yuk Tuntas Minum Obat Bareng Apoteker!". Kegiatan ini menghadirkan Apt. Resqy Fitria Prijayanti, S.Farm. sebagai narasumber dan didampingi oleh tim Marketing RS Condong Catur.

Bertempat di Studio MQ FM Yogyakarta, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen RS Condong Catur dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui media penyiaran. Melalui siaran radio, informasi kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas sehingga diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan serta pengobatan tuberkulosis (TB) pada anak.
Dalam sesi siaran, Apt. Resqy Fitria Prijayanti menjelaskan bahwa salah satu tantangan selama menjalani pengobatan TB adalah munculnya efek samping obat. Efek samping yang paling sering dialami pasien antara lain mual dan muntah. Selain itu, beberapa jenis obat anti-TB juga dapat menyebabkan perubahan warna cairan tubuh, seperti urine atau air mata menjadi kemerahan. Kondisi tersebut merupakan efek yang umum terjadi dan tidak berbahaya. Namun, masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda-tanda seperti kulit atau bagian putih mata menguning karena dapat menjadi indikasi efek samping yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Selain membahas efek samping obat, narasumber juga menekankan pentingnya menyelesaikan pengobatan TB sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pengobatan yang tidak tuntas dapat menyebabkan kuman TB menjadi resistan terhadap obat sehingga proses pengobatan menjadi lebih sulit. Pada anak, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kekambuhan di kemudian hari, bahkan hingga usia dewasa, yang membutuhkan terapi dengan pengawasan lebih ketat.
Melalui kegiatan edukasi ini, RS Condong Catur berharap masyarakat semakin memahami pentingnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan TB pada anak serta tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami kendala selama proses terapi. Kolaborasi bersama media penyiaran juga diharapkan dapat terus menjadi sarana penyebarluasan informasi kesehatan yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.